Mental Disorder

Januari 8, 2008 at 2:35 pm (Opini)

Banjir yang melanda di sebagian besar wilayah Jawa akhir-akhir ini, suka tidak suka telah mempengaruhi apa yang saya sebut dengan mental disorder. Bagaimana tidak? Lha pagi-pagi sekali saat asyik menyapu halaman, menatap hari baru yang cerah setelah kemarin seharian hujan, datanglah pengantar koran yang membawa begitu banyak berita tentang kepiluan. Halaman depannya saja sudah membuat miris hati. Anak-anak dan remaja bersuka ria di tengah genangan air kecoklatan, disampingnya seorang pemuda naik becak dengan motor Jupiter-nya, asyik ngobrol dengan si abang becak. Di belakang becak jelas terlihat dua ibu bahu membahu membawa karung beras bantuan pemerintah. Mereka seakan enjoy dengan keadaan yang kalau saja saya yang mengalami, mungkin saya sudah minggat ke negri antah berantah dengan membawa sejuta sumpah serapah.

Apa yang saya rasakan saat itu sudah saya lupakan. Karena saat saya menulis tulisan ini, jam sudah menunjukan pukul 10 lewat. Dan saya sudah terbuai dengan hawa AC yang sejuk di dalam kantor. Yang ingin saya utarakan adalah tentang mental disorder tadi. Disorder kalau di-Indonesia-kan ya artinya kekacauan, ketidakaturan, semrawut. Memang terkesan melebih-lebihkan saya ini. ’Lha keadaan aman terkendali kok, aman-aman saja, ayem jeh!’ kata teman saya. ’Iya kan itu disana, disini ya disyukuri laah.. prihatin gitu deeh’ timpal yang lain. Saya coba jelaskan bahwa makna kekacauan tadi bukan sekedar diartikan melulu fisik. Yang saya coba pandang adalah dari sudut non-fisik, non-materiil, ghoib, atau apalah namanya. Fikiran, mental, isi hati, nurani, itu semua kan tak terlihat? ’Jadi gimana tha mas? Jadi kekacauan yang model gimana maksudnya?’ Lah, disitu saya langsung mendadak bingung.

Mandiri

Konsep ini saya rasa bukan hal baru. Saya fikir mereka-mereka yang ngeh psikologi sudah tau hal ini. Para Psikolog Anak, kayak Kak Seto malah mungkin lebih ngerti. Tapi kalau boleh berpendapat, masalah psikologi itu kan masalah pribadi. Hanya yang bersangkutan yang lebih tau masalahnya, dan seharusnya lebih tahu pemecahannya. Para psikolog hanya berperan sebagai second striker, pengumpan, dan yang mencetak gol harusnya si empunya masalah. Nah, kalo bisa menggocek dan mencetak gol sendiri ya bukan masalah. Malah lebih bagus. Itu menunjukkan kemandirian. Lihat saja pada gambaran yang saya coba lukiskan di atas tadi. Mereka yang terkena bencana, yang notabene menderita lahir dan batin, masih bisa terenyum, bermain, bahkan ngobrol ringan seperti layaknya kita-kita yang asyik wedhangan* di hik* depan pasar.

Warga bangsa ini sudah kompeten untuk masalah adaptasi. Dari mulai petinggi-petingginya hingga rakyat jelata-yang bahasa kerennya grass root-sudah tak sungkan lagi untuk terbiasa dan membiasakan diri dengan keadaan. Bagai air di daun talas, ikut-ikut saja bergulir kemana sang daun bergoyang. Budaya nrimo yang konon adiluhung dan luhur, kini jadi semacam ironi. Mau berpendapat, takut dibilang tak tahu adat. Mau protes demi kebaikan, takut dikira dicap gak tahu peraturan.

So, mulailah sedikit demi sedikit pola fikir akan kemandirian itu terbentuk. Saya tertarik saat melihat tayangan televisi beberapa hari lalu. Salah satu stasiun TV swasta tengah meliput daerah yang terkena banjir. Di salah satu scene-nya menampilkan adegan wawancara dengan korban banjir langsung dari TKP.

Scene 1, lokasi di Daerah Jakarta Timur (W = Wartawan, K = Korban)
W : Bagaimana keadaan ibu?
K : Yah gini mbak, basah.. he he..
W : Ibu gak mengungsi?
K : Yaa, mau ngungsi sodara jauuh, di Cibinong sono.. ya disini aja deh, paling juga bentar lagi surut..

Scene 2, lokasi di Daerah Solo, Jawa Tengah.
W : Bagaimana keadaannya bu?
K : Wah susah mbak, makanan susah, yah mau gimana lagi..
W : Ibu gak ikut mengungsi?
K : Nggak mbak, ini mengurus anak yang mau tes dulu. Kasihan. Yaa, kami Cuma bisa mengharapkan bantuan Pemerintah…

Sikap dua ibu dari daerah yang berbeda. Yang satu hidup di tengah kerasnya ibukota, yang lainnya terbiasa hidup damai, tentrem kertaraharja. Dari sekilas tayangan tadi saya bisa membayangkan, tingkat kemandirian di Jakarta sono memang tertanam kuat. Lu lu gue gue masih kental. Jadi pantas saja ibu-ibu di sana pun seakan nggak butuh perhatian pemerintah, mereka lebih memiliki naluri survive yang tinggi. Tingkat kemandirian yang memadai, bahkan di saat-saat seperti itu mereka bisa berfikir optimis. ’Kamu ni kok membanding-bandingkan, sama-sama kena banjir gitu ya kasian tha ya..’ timpal teman saya, sambil main game balapan. Ya gitu itu, cuma bisa teriak kasihan tanpa mau bertindak. Kena mental disorder dia. Saya? Apalagi.

*wedhangan = minum minuman kopi/teh
*hik = angkringan, warung makan kecil

2 Komentar

  1. djunaedird berkata,

    Yang satu sudah biasa ngalami, yang berikutnya kasih ibu menampakkan wujudnya :D

  2. blogbyblogger berkata,

    Jadi inget ibu… ;(

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.