Persipura goes to Final

Pertarungan antar dua tim kelas wahid berlangsung kemarin sore. Perhelatan olahraga bergengsi yang tak kalah serunya dengan Liga Djarum. Seseru pertarungan berebut pengaruh antar kedua produsen rokok ini.
Seperti yang telah sama-sama kita ketahui, Persipura menjadi jawara setelah mengkandaskan favorit juara Persija dengan skor 3-2. Menarik untuk dicermati, minimnya dukungan suporter tak membuat Tim Mutiara Hitam kehilangan tajinya. Penguasaan bola, kecepatan dan kekompakan mereka di atas rata-rata. Babak Semifinal ini begitu menarik untuk ditonton, ya.. seperti layaknya Final. Ramai, banyak gol, dan tetap sportif. Saya fikir, beginilah seharusnya atmosfir sepak bola Indonesia. Angan saya jauh melambung, kalau saja apa yang saya saksikan ini bisa juga saya nikmati di pertandingan-pertandingan lainnya. Bisa gak ya?
Tak diunggulkan bukan berarti tak mampu. Dalam tiap pertandingan olahraga, segalanya bisa terjadi, karena memang, tiap pertandingan harus ada fihak yang menang dan yang kalah. Apapun jenisnya. Saya tak menerima konsep draw. Tujuan bertanding kan untuk meraih kemenangan. Bukan draw, sembunyi.. atau bahkan lari melihat musuh.
Dalam pekerjaan pun menganut hal yang sama. Ini dalam sudut pandang pekerjaan saya lho. Konsep win-win solution itu saya anggap mitos. Hanya konsep tuk menyenangkan para pakar psikologi. Kita gak pernah tahu isi hati orang lain. Yang kita lihat hanya proses jabat tangan, sama-sama tersenyum, saling membubuhi tanda tangan, that’s it. Tujuan dan motif di balik itu semua only God knows.
At last, selamat tuk Persipura. Anda semua membanggakan saya yang sangat menyukai tim-tim underdog. Buktikan: the winner is not the one who bigger than others, but surely the one who knows themself…
Kyai Slamet Still Alive!

Malam tahun baru Hijriah di Kota Bengawan tak ubahnya malam tahun baru Masehi. Bedanya, malam tahun baru yang berlangsung kemarin malam itu lebih didominasi oleh kaum tua dan sebagian besar berasal dari pelosok. Dengan menumpang mobil pick-up, truk atau kendaraan sejenis yang muat tuk ditumpangi orang satu RT, mereka berbondong-bondong memadati jalan-jalan di pusat kota. Sudah tradisi entah mulai kapan, mungkin sejak keraton kasunanan Surakarta berdiri, tiap malam tahun baru Islam selalu diadakan kirab arak-arakan pusaka keraton. Dan primadonanya tiada lain dan tiada bukan adalah rombongan kebo bule yang konon adalah keturunan Kyai Slamet. Bingung? Sama. Konon orang yang dijuluki Kyai Slamet itu berubah wujud menjadi Kerbau yang berkulit kemerahan. Entah dikutuk atau atas kemauan sendiri saya juga gak tahu dan gak mau tahu. Pokoknya ujug-ujug* sudah begitu adanya. Kyai Slamet-nya sendiri sudah wafat, yang tersisa kini adalah cucu-cucu beliau yang menurut informasi terakhir ada tujuh orang..eh ekor.
Berhubung sudah turun temurun dan sudah sedemikian lekatnya budaya itu, prosesi kirab ini telah menjelma menjadi the most awaited performance sepanjang tahun. Banyak orang-orang tua meyakini, melihat arak-arakan keturunan Kyai Slamet adalah berkah. Sehingga banyak yang menamakanya ngalap berkah. Konon, ini yang saya nilai ekstrim, barang siapa yang mendapat (maaf..) kotorannya niscaya mendapat keberuntungan di tahun depan. Anda tertawa? Silahkan. Saya juga tertawa terbahak-bahak waktu istri saya yang asli Solo mengabarkan hal tersebut. Apa iya? Ah, mustahil! Saya persilahkan Anda piknik ke Solo dan malamnya wedhangan di hik terdekat. Tanyakan pada penjaja hik, Anda baru percaya.
Tuah
Berkah, wahyu, ilham, tuah atau apalah, menurut saya itu hanya istilah. Mungkin yang dimaksud adalah konsep tentang keberuntungan. Kalau lewat otak saya yang cenderung ke-kiri-an (logis), keberuntungan itu terjadi bilamana ada kesempatan yang datang dan kita memiliki sumber daya untuk meraihnya. Jadi sinonim dari beruntung itu adalah datangnya rejeki nomplok. Percuma kan kalau banyak kesempatan lewat tapi kita belum mampu tuk menangani? Ada lowongan kerja tapi kita belum punya kualifikasinya. Punya modal tapi belum ada rencana tuk me-manage-nya. Jadi, simpel saja. Orang yang beruntung adalah orang yang mempunyai sumber daya untuk meraih kesempatan yang datang. Titik. Anda punya pendapat lain?
Kembali ke kasus ngalap berkah tadi, yang jadi fikiran saya adalah, ternyata bangsa kita masih lekat dengan namanya mistik dan tahayul. Mitos seakan benar-benar jadi pedoman hidup. Agama? Wah saya gak berani menyinggung soal itu. Saya harus konsultasi dulu sama Aa Gym. Yang jelas, adat budaya memang harus dan seyogyanya dilestarikan. Dengan adanya adat budaya itu kita memiliki identitas diri dan menambah rasa kebersamaan. Saya kasihan dengan Malaysia yang hingga kini masih mencari dan mengorek identitas diri bangsanya, sampai-sampai mereka depresi dan nekat mencomot lagu daerah kita tuk dijadikan lagu promosi parawisata, mematenkan kerajinan, alat musik, tari-tarian. Karena apa? Saking depresinya. Mereka harus banyak belajar dari tetua-tetua di Solo sini yang berbondong-bondong ngalap berkah. Ngalap dari tradisi. Bukan ngalap dari tetangga sebelah yang sedang dirundung kemalangan.
Tahayul yo mbok ben. Urusan keduniaan yang tak ada ujung pangkalnya memang butuh sandaran lain. Sandaran itu dimaknai bermacam-macam oleh mahluk macam kita. Jika berbeda, wajarlah lha memang kita ditakdirkan tuk berbeda-beda. Dengan perbedaan itu kita bisa saling mengenal dan bersyukur. Saya saja yang dari Sunda bisa melebur dengan istri saya yang Jawa. No problem, asal hardware-nya cocok
. Dibilang tuah, boleh saja. Saya berfikir bahwa saya adalah orang yang paling beruntung, maka jadilah saya seperti itu. Sama dengan fikiran wong tuo-tuo yang kemruyuk ngalap berkah tadi malam.
Selamat tahun baru Hijriyah. Semoga keberuntungan menyertai Anda…
Dark Age
Dua tahun lalu, tepatnya saat hari pertama mulai bekerja di instansi ini, belum pernah terbersit di fikiran saya bahwa pekerjaan ini adalah sekedar batu loncatan. Dalam artian, saya langsung straight to the point bahwa ini adalah pekerjaan saya untuk selamanya. Meski belum lulus dalam pendidikan akademik, namun kepercayaan diri saya saat itu sudah munthuk-munthuk*. Berani mengambil langkah awal yang menurut pandangan teman-teman saya yang konvensional itu adalah tak mungkin. Lha buktinya, sampai detik ini saya masih dipercaya atau lebih tepatnya masih terpakai, dan saya tahu itu satu kredit poin plus yang saya miliki dibanding teman-teman saya yang telah lulus duluan.
Selama dua tahun itu saya tak mengira akan menerima begitu banyak pengalaman yang saya angankan saja belum pernah. Naik pesawat, berlayar dengan speedboat, berkubang dalam lumpur, hingga hinggap di apartemen bergengsi ala selebritis, pernah saya lakoni. Tentu tujuan saya menuliskan itu semua bukanlah untuk mengumbar kesombongan. Semoga teman-teman semua juga berfikir demikian. Yang coba saya lemparkan disini adalah isu tentang optimisme dalam kehidupan. Yah, mudah-mudahan saja begitu…
Saya akui saya sudah pernah mengalami apa yang saya namakan dengan dark age dalam kehidupan saya. Bangkrut secara finansial dan remuk redam dalam hal asmara. Keduanya saling berkongsi menggerogoti alur kehidupan saya. Kini, bilamana saya tengah menghadapi sesuatu yang buruk, saya tinggal berfikir ’saya pernah mengalami hal terburuk dalam hidup’ jadi ini semua tak ada apa-apanya. Mungkin juga teman-teman semua malah lebih beruntung dari saya, tak pernah mengecap episode dark age. Hidup mengalir dengan tujuan yang sudah diprediksikan, atau malah sudah mencapai apa-apa yang sudah dicita-citakan? Well, bersyukurlah pada Sang Kuasa, karena masih banyak janda-janda tua dan… yah Anda semua tahu kelanjutannya.
Jam terbang
Flying watch, begitu Tukul Reynaldi Arwana bilang. Bukan sekedar asal ngecap, frasa itu melambangkan kepolosan tanpa mengindahkan aturan yang berlaku. Seakan ringan diucap tapi kesan yang ditampilkan: keren. Saya suka Tukul, tapi itu dulu. Sekarang, bosen dan bahkan malu sendiri kalau nonton acara Talk Show-nya. Monoton dan (saya baru sadar kemaren sore…) acaranya tak ada unsur pendidikan sama sekali. Maaf kalau Bung Tukul baca Blog ini. Just kidding. Saya hanya ingin menyelipkan pesan moral, sekalian ngritik, cuma itu. Saya cuma ingin membahas sedikit tentang penggunaan bahasa gado-gado, dan kebetulan cocok dengan tema yang ingin saya sampaikan.
Nah, masih tentang bahasa gado-gado, kalau di tempat saya bekerja lain lagi. Karena sifat ke-Jawa-annya begitu kental, sampai-sampai Bahasa Indonesia pun seakan terpinggirkan, atau hanya sebagai pelengkap suasana formal. Korbannya, yang sering kena ya pastinya saya, lha jowo kulo bedho, ingsun seko cerbon lud! Tapi karena flying watch saya dalam hal peredaran hidup di Kota Bengawan ini begitu tinggi, jadilah saya ikut-ikutan me-mix bahasa agar terdengar enak dan mudah difahami. Seperti misalnya dalam dialog ini:
X : eh nanti kita ketemu dimana?
Y : yaa, di sana itu lho. Gini aja, nanti aku tunggu di enggok-enggokan* depan kantor itu, gimana?
Simpel namun mengena maksudnya.
Mental Disorder
Banjir yang melanda di sebagian besar wilayah Jawa akhir-akhir ini, suka tidak suka telah mempengaruhi apa yang saya sebut dengan mental disorder. Bagaimana tidak? Lha pagi-pagi sekali saat asyik menyapu halaman, menatap hari baru yang cerah setelah kemarin seharian hujan, datanglah pengantar koran yang membawa begitu banyak berita tentang kepiluan. Halaman depannya saja sudah membuat miris hati. Anak-anak dan remaja bersuka ria di tengah genangan air kecoklatan, disampingnya seorang pemuda naik becak dengan motor Jupiter-nya, asyik ngobrol dengan si abang becak. Di belakang becak jelas terlihat dua ibu bahu membahu membawa karung beras bantuan pemerintah. Mereka seakan enjoy dengan keadaan yang kalau saja saya yang mengalami, mungkin saya sudah minggat ke negri antah berantah dengan membawa sejuta sumpah serapah.
Apa yang saya rasakan saat itu sudah saya lupakan. Karena saat saya menulis tulisan ini, jam sudah menunjukan pukul 10 lewat. Dan saya sudah terbuai dengan hawa AC yang sejuk di dalam kantor. Yang ingin saya utarakan adalah tentang mental disorder tadi. Disorder kalau di-Indonesia-kan ya artinya kekacauan, ketidakaturan, semrawut. Memang terkesan melebih-lebihkan saya ini. ’Lha keadaan aman terkendali kok, aman-aman saja, ayem jeh!’ kata teman saya. ’Iya kan itu disana, disini ya disyukuri laah.. prihatin gitu deeh’ timpal yang lain. Saya coba jelaskan bahwa makna kekacauan tadi bukan sekedar diartikan melulu fisik. Yang saya coba pandang adalah dari sudut non-fisik, non-materiil, ghoib, atau apalah namanya. Fikiran, mental, isi hati, nurani, itu semua kan tak terlihat? ’Jadi gimana tha mas? Jadi kekacauan yang model gimana maksudnya?’ Lah, disitu saya langsung mendadak bingung.
Mandiri
Konsep ini saya rasa bukan hal baru. Saya fikir mereka-mereka yang ngeh psikologi sudah tau hal ini. Para Psikolog Anak, kayak Kak Seto malah mungkin lebih ngerti. Tapi kalau boleh berpendapat, masalah psikologi itu kan masalah pribadi. Hanya yang bersangkutan yang lebih tau masalahnya, dan seharusnya lebih tahu pemecahannya. Para psikolog hanya berperan sebagai second striker, pengumpan, dan yang mencetak gol harusnya si empunya masalah. Nah, kalo bisa menggocek dan mencetak gol sendiri ya bukan masalah. Malah lebih bagus. Itu menunjukkan kemandirian. Lihat saja pada gambaran yang saya coba lukiskan di atas tadi. Mereka yang terkena bencana, yang notabene menderita lahir dan batin, masih bisa terenyum, bermain, bahkan ngobrol ringan seperti layaknya kita-kita yang asyik wedhangan* di hik* depan pasar.
Warga bangsa ini sudah kompeten untuk masalah adaptasi. Dari mulai petinggi-petingginya hingga rakyat jelata-yang bahasa kerennya grass root-sudah tak sungkan lagi untuk terbiasa dan membiasakan diri dengan keadaan. Bagai air di daun talas, ikut-ikut saja bergulir kemana sang daun bergoyang. Budaya nrimo yang konon adiluhung dan luhur, kini jadi semacam ironi. Mau berpendapat, takut dibilang tak tahu adat. Mau protes demi kebaikan, takut dikira dicap gak tahu peraturan.
So, mulailah sedikit demi sedikit pola fikir akan kemandirian itu terbentuk. Saya tertarik saat melihat tayangan televisi beberapa hari lalu. Salah satu stasiun TV swasta tengah meliput daerah yang terkena banjir. Di salah satu scene-nya menampilkan adegan wawancara dengan korban banjir langsung dari TKP.
Scene 1, lokasi di Daerah Jakarta Timur (W = Wartawan, K = Korban)
W : Bagaimana keadaan ibu?
K : Yah gini mbak, basah.. he he..
W : Ibu gak mengungsi?
K : Yaa, mau ngungsi sodara jauuh, di Cibinong sono.. ya disini aja deh, paling juga bentar lagi surut..
Scene 2, lokasi di Daerah Solo, Jawa Tengah.
W : Bagaimana keadaannya bu?
K : Wah susah mbak, makanan susah, yah mau gimana lagi..
W : Ibu gak ikut mengungsi?
K : Nggak mbak, ini mengurus anak yang mau tes dulu. Kasihan. Yaa, kami Cuma bisa mengharapkan bantuan Pemerintah…
Sikap dua ibu dari daerah yang berbeda. Yang satu hidup di tengah kerasnya ibukota, yang lainnya terbiasa hidup damai, tentrem kertaraharja. Dari sekilas tayangan tadi saya bisa membayangkan, tingkat kemandirian di Jakarta sono memang tertanam kuat. Lu lu gue gue masih kental. Jadi pantas saja ibu-ibu di sana pun seakan nggak butuh perhatian pemerintah, mereka lebih memiliki naluri survive yang tinggi. Tingkat kemandirian yang memadai, bahkan di saat-saat seperti itu mereka bisa berfikir optimis. ’Kamu ni kok membanding-bandingkan, sama-sama kena banjir gitu ya kasian tha ya..’ timpal teman saya, sambil main game balapan. Ya gitu itu, cuma bisa teriak kasihan tanpa mau bertindak. Kena mental disorder dia. Saya? Apalagi.
*wedhangan = minum minuman kopi/teh
*hik = angkringan, warung makan kecil